Evaluasi Penggarapan Program Kesertaan ber-KB

Denpasar, BKKBN Bali
Dalam rangka untuk mengevaluasi pelaksanaan program kesertaan ber-KB serta untuk mengetahui kendala yang dihadapi dan usaha pemecahannya, Perwakian BKKBN Provinsi Bali menyelenggarakan kegiatan Evaluasi Penggarapan Kesertaan ber-KB tingkat Provinsi di Hotel Inna Bali Heritage, Denpasar pada Rabu, (6/2) kemarin.
Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, Catur Sentana yang sekaligus memaparkan materi terkait Kesertaan ber-KB tahun 2018. Pada kesempatan ini, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali mengatakan bahwa secara garis besar, pencapaian program KKBPK di tahun 2018 sudah cukup baik, hanya saja ada beberapa indicator yang masih perlu mendapat perhatian.
“Pencapaian Bali sudah bagus, hanya saja beberapa indicator seperti Unmet Need, Penambahan Peserta KB Aktif masih belum mencapai target” Ujarnya.
Dari total jumlah Peserta KB Baru tahun 2018, yaitu 56.214 hanya mampu menghasilkan PA hanya 13% (7.570), sehingga terjadi tingkat putus pakai/Drop Out (DO) sebanyak mencapai 80%. Hal ini perlu kita sikapi bersama, tidak hanya bagiaman menghasilkan PB yang bayak, namun bagaimana memelihara keberlangsungan PA.
Yang juga perlu digarisbawahi adalah capaian Unmet Need (persentase kebutuhan KB yang tidak terpenuhi). Berdasarkan data SKAP 2018, Unmet Need Bali tercatat 13% dari 8,9% yang menjadi target dalam Renstra.
“Hal ini diakibatkan oleh beberapa hal, antara lain bahan KIE belum maksimal bisa menjawab kebutuhan masyarakat dan belum optimalnya pelayanan KB Mobile”. Tambah Sentana.
Sementara Ketua IDI Provinsi Bali, Ni ketut Adi Arini, dalam pelaksanaan program KB di lapangan sedikit mengalami kendala terkait dengan ketersediaan alat kontrasepsi. Di Era JKN,para Bidan boleh mendapatkan alat dan obat kontraspesi dari Pemerintah jika menjadi jejaring dari Puskesmas maupun dokter keluarga. Sementara saat ini banyak bidan yang belum terdaftar sebagai jejaring.
“Hal ini menjadi kendala kami (para bidan) di lapangan, sehingga kami lebih banyak menggunakan alat KB mandiri. Di tahun 2019 ini kami sudah melakukan koordinasi untuk lebih menigkatkan keikutsertaan bidan menjadi jejaring dokter keluarga” Ujarnya.
Kegiatan ini dilaksanakan selama 1 hari dengan menghadirkan 60 orang peserta dari seluruh kabupaten/kota se-Bali.